Gangguan Fimosis pada Penis

Gangguan Fimosis pada Penis

Penulis: Faruq

Fimosis dan parafimosis merupakan kelainan yang terjadi pada penis. Gangguan ini terjadi pada anak-anak. Tetapi bisa terjadi pada remaja atau dewasa yang belum sunat.

Fimosis adalah kondisi ketika kulup tidak bisa ditarik ke belakang karena kulup tidak bisa terlepas dari kepala penis. Anda tidak disarankan untuk mencoba melepasnya sendiri karena dapat menyebabkan parafimosis.

Parafimosis merupakan kondisi di mana kulup tersangkut sehingga tidak bisa kembali menutupi kepala penis. Selain rasa sakit, parafimosis bisa merusak struktur kulit dan jaringan parut, hingga menyebabkan kulup tidak bisa ditarik di kemudian hari. Yang lebih berbahaya, kondisi ini dapat mengganggu sirkulasi darah.

Kondisi dan penyebab fimosis

Fimosis dapat terjadi karena beberapa kondisi, yaitu:

  • Infeksi jaringan parut bisa melukai kulup dan bisa membuatnya tidak elastis. Jaringan keras bisa membuatnya sulit untuk ditarik kembali.
  • Penarikan dan peregangan kulup dengan paksa bisa menyebabkan robekan dan peradangan. Ini juga menjadi penyebab parafimosis.
  • Penuaan. Sebagaimana kulit wajah, semakin bertambahnya usia, kerutan dan kelonggaran akan muncul di kulup. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan berupa lebih sedikit mengalami ereksi.
  • Kondisi medis. Penderita diabetes akan lebih sering mengalami peradangan kelenjar (balanitis), salah satu infeksi penyebab fimosis. Sebaiknya konsultasi ke dokter untuk mendapat perawatan dengan baik.

Peradangan kelenjar (balanitis) dan infeksi kulup adalah penyebab umum fimosis. Kebersihan penis menjadi penyebab peradangan serta membuat perkembangan hormon tidak seimbang. Biasanya ditandai dengan bercak putih di kulup dan kulit yang gatal serta mudah sobek.

Gejala dan tanda fimosis

Secara normal, kulup bisa berada di salah satu tempat, menutupi kepala penis atau di belakangnya. Ketika fimosis, penis akan menunjukkan beberapa tanda, yaitu:

  • Saat kencing, kulup akan menggembung oleh urin sehingga menyebabkan rasa sakit.
  • Penis akan terasa sakit ketika berhubungan seks, terutama saat terjadi ereksi.
  • Infeksi pada saluran kemih, seperti nyeri atau kencing mengeluarkan darah.
  • Nyeri dan terdapat cincin putih pada kulup.

Fimosis yang tidak kunjung sembuh atau mengalami komplikasi sebaiknya segera mendapatkan penanganan, karena bisa menyebabkan gangguan:

  • iritasi atau pendarahan pada penis
  • pembengkakan kulup sehingga mengganggu kencing
  • retensi urin
  • nyeri saat kencing (disuria)
  • sakit ketika ereksi
  • infeksi berulang pada kulup (balanoposthitis)
  • parafimosis
  • infeksi saluran kemih

Penanganan fimosis

Fimosis merupakan gangguan bawaan yang sembuh seiring bertambahnya usia. Anda hanya perlu sabar dan menunggu hingga kulup terlepas dari kepala penis secara alami.

Beberapa dokter menyarankan untuk menunggu gangguan ini membaik dengan sendirinya. Normalnya, kulup yang menempel pada kepala penis akan terlepas pada usia 10 tahun dan lepas dengan sempurna sebelum usia 17 tahun.

Baca Juga : Mengenal Organ Reproduksi Pria dan Fungsinya

Selain opsi sabar, ada beberapa cara untuk menyembuhkan fimosis. Dokter mungkin menyarankan tindakan berikut ketika fimosis berpotensi mengganggu kesehatan.

Terapi kortikosteroid

Ini merupakan tindakan non-medis dengan menggunakan salep steroid topikal untuk membantu melembutkan kulup. Umumnya berlangsung selama 6-8 minggu.

Salep steroid topikal dioleskan pada kulit kulup 2 kali sehari. Kandungannya berfungsi untuk melembutkan kulit kulup, sehingga kulup bisa dengan mudah ditarik. Namun, praktik penarikan kulit kulup bisa dilakukan pada perawatan minggu ke tiga untuk menghindari rasa sakit.

Perawatan dengan krim steroid efektif pada kebanyakan penderita. Selain itu, tidak ada efek samping dari penggunaan krim.

Akan tetapi, ada kemungkinan kulup kembali menutupi kepala penis. Jika hal ini terjadi maka sebaiknya melakukan operasi. Sebaiknya Anda konsultasi dengan dokter jika ingin mencoba terapi ini.

Sunat

Sunat mengacu pada tindakan operasi pengangkatan kulup. Umumnya, Dokter merekomendasikan sunat karena kegagalan terapi salep steroid, fimosis patologis, parafimosis, infeksi saluran kemih berulang-ulang, atau balanoposthitis yang parah.

Umumnya, metode sunat tidak mengambil seluruh bagian kulup (sunat parsial) tetapi hanya sebagian kecil yaitu ujung kulup. Dokter akan membuat sayatan pada kulup yang ketat, kemudian menutup potongan tersebut dengan menjahitnya. Hal ini untuk mempermudah penarikan serta supaya kulup tidak menutupi kepala penis kembali.

Namun, ada beberapa kasus yang mengharuskan dokter mengangkat seluruh kulup. Dengan begitu, kulup tidak akan bisa kembali menutupi kepala penis dan fimosis tidak akan terjadi lagi.

Efek samping sunat

Sunat merupakan prosedur umum untuk mengatasi fimosis. Tidak banyak orang merasakan efek samping sunat, tapi hal ini bisa saja terjadi.

Efek yang mungkin muncul yaitu perdarahan, peradangan bekas operasi, penis melengkung, atau pengetatan pembukaan uretra. Namun, efek ini akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa saat.

Fimosis kemungkinan dapat muncul kembali setelah operasi. Umumnya terjadi pada sunat parsial. Jika ini terjadi maka dokter biasanya menyarankan untuk mengangkat semua kulup. Dengan begitu kepala penis tidak terhalang kulit.

Mencegah fimosis

Tidak ada cara khusus untuk mencegah fimosis. Hanya saja Anda perlu menjaga dan meningkatkan kebersihan penis dengan baik. Beberapa hal ini bisa membantu:

  • Mencuci penis dengan bersih saat mandi
  • Menghindari pemakaian sabun yang mengandung parfum, karena dapat memicu iritasi.
  • Jika belum sunat, mengembalikan kulup pada posisinya setelah berhubungan seks.

Baca Juga : Berbagai Penyakit yang Menyerang Sistem Reproduksi Pria dan Wanita

 

Sumber


Health Line. 2018. Everything You Should Know About Phimosis. www.healthline.com
Medscape. 2018. Phimosis, Adult Circumcision, and Buried Penis. www.medscape.com
NCBI. 2015. What are treatment option for phimosis? www.ncbi.nlm.nih.gov
UCSF. Phimosis. Urologylucsf.edu
Web MD. 2019. 2 Penis Disorders: Phimosis and Praphimosis. www.webmd.com