Risiko Penyakit Berdasarkan Klasifikasi Usia Menurut WHO

Risiko Penyakit Berdasarkan Klasifikasi Usia Menurut WHO

Penulis: Opie

Tantangan di dalam hidup akan semakin besar seiring dengan bertambahnya usia Anda, termasuk dalam hal kesehatan. Semakin bertambah usia, fungsi tubuh Anda akan semakin menurun, berbagai risiko penyakit pun akan semakin gencar mengincar Anda jika Anda tidak berhati-hati dan tidak menjalankan gaya hidup yang sehat.

Sebagai orang yang tanggap, ada baiknya Anda memahami berbagai macam risiko penyakit berdasarkan klasifikasi usia berikut ini.

Baca Juga: Waspadai 4 Penyakit Tidak Menular yang Mematikan

Kelompok Usia Menurut WHO

Pengelompokan usia yang dicetuskan oleh WHO ini berlaku untuk orang dewasa, remaja, anak-anak, dan bayi. Penjelasan berikut ini digunakan untuk memastikan konsistensi dalam penjelasan mengenai risiko penyakit yang dikelompokkan sesuai usia, serta untuk pedoman WHO lainnya.

Tidak menutup kemungkinan bahwa lembaga lain menggunakan definisi dan pengelompokkan usia yang berbeda.

  1. Dewasa. Manusia dewasa adalah orang yang berusia lebih dari 19 tahun.
  2. Remaja.  Seseorang dikatakan sebagai remaja apabila sudah berusia 10-19 tahun.
  3. Anak-anak. Anak-anak adalah mereka yang berusia 19 ke bawah.
  4. Bayi. Bayi adalah seorang anak di bawah usia satu tahun.

Risiko Penyakit Berdasarkan Klasifikasi Usia Menurut WHO 

Berikut adalah berbagai resiko penyakit tersebut:

1. Bayi dan Anak-anak 

WHO menyebutkan beberapa risiko masalah kesehatan yang timbul pada bayi dan anak-anak masa kini.

Gangguan kesehatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan.  Berikut adalah beberapa risiko penyakit yang mengintai bayi dan anak-anak menurut WHO:

  • Obesitas dan berbagai penyakit tidak menular
  • Cedera, kekerasan, dan konflik.

2. Masa Remaja dan Dewasa Muda

Masa remaja digambarkan sebagai masa dalam kehidupan seseorang yang bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum dewasa.

WHO mendefinisikan masa remaja sebagai fase ketika seorang individu berada di dalam kelompok usia 10-19 tahun, dan pemuda sebagai individu berusia 15-24 tahun.

Kedua kelompok usia yang tumpang tindih ini kemudian digabungkan di dalam kelompok “orang-orang Muda”, yakni mencakup rentang usia 10-24 tahun.

Masalah kesehatan yang terjadi pada orang-orang pada rentang usia ini ada beraneka ragam. Menurut WHO, berikut adalah masalah kesehatan tersebut:

  • Cedera
  • Kekerasan
  • Masalah kesehatan Mental
  • Penggunaan Alkohol dan Obat-obatan Terlarang
  • Masalah kesehatan yang berhubungan dengan kebiasaan merokok
  • HIV/AIDS
  • Penyakit menular lainnya
  • Kehamilan dan persalinan dini
  • Kekurangan nutrisi dan mikronutrien
  • Gizi kurang dan obesitas.

Baca Juga: Bahaya Obesitas Bagi Tubuh yang Perlu Diketahui

3. Dewasa dan Lansia

Kondisi kesehatan umum yang akan semakin parah seiring bertambahnya usia, dan dimulai ketika usia dewasa tiba menurut WHO adalah keadaan-keadaan berikut ini:

  • Gangguan pendengaran
  • Katarak dan kesalahan refraksi
  • Sakit punggung dan leher
  • Osteoartritis
  • Penyakit paru obstruktif kronis
  • Diabetes
  • Depresi
  • Dementia

Selain itu, seiring bertambahnya usia, Anda cenderung akan mengalami beberapa kondisi di atas pada saat yang bersamaan.

Petunjuk Menjalani Gaya Hidup Sehat Menurut WHO

Gaya hidup yang sehat digadang-gadang mampu menurunkan resiko Anda terkena penyakit. Salah satu langkah menjalani gaya hidup sehat adalah menerapkan pola makan yang sehat. Berikut adalah 12 langkah pola makan hidup sehat yang disarankan oleh WHO:

  • Konsumsilah makan-makanan bergizi, terutama yang berasal dari tanam-tanaman dan bukan makanan hewani.
  • Konsumsi roti, biji-bijian, pasta, nasi atau kentang beberapa kali sehari.
  • Konsumsi berbagai jenis sayuran dan buah-buahan, setidaknya 400g per hari. Pilihlah produk lokal yang masih segar.
  • Pertahankan berat badan di antara batas yang disarankan oleh ahli kesehatan dan mulailah kebiasaan berolahraga setiap hari.
  • Kontrol asupan lemak Anda, yakni dengan mengonsumsi tidak lebih dari 30% energi harian. Selain itu, mulailah untuk mengganti sebagian besar lemak jenuh dengan lemak tak jenuh.
  • Gantilah daging berlemak yang biasa Anda konsumsi dengan kacang-kacangan, polong-polongan, lentil, ikan, unggas, atau daging tanpa lemak.
  • Konsumsi susu dan produk turunanya, seperti kefir, susu asam, yoghurt, dan keju dengan kandungan lemak dan garam yang lebih rendah.
  • Pilih makanan yang rendah gula, dan mulailah untuk mengurangi konsumsi minuman dan makanan manis.
  • Pilih diet rendah garam. Asupan garam total tidak boleh lebih dari satu sendok teh (5g) per hari, termasuk garam dalam roti dan makanan lainnya yang diproses, diawetkan.
  • Kurangilah konsumsi minuman beralkohol.
  • Siapkan makanan dengan cara yang aman dan higienis. Bila perlu lakukan hal-hal, seperti mengukus, memanggang, merebus atau menghangatkan makanan dengan microwave terlebih dahulu, guna  membantu mengurangi jumlah lemak tambahan.
  • Berikan ASI eksklusif hingga 6 bulan, dan lakukan pengenalan terhadap makanan pendamping yang aman dan memadai sejak usia sekitar 6 bulan. Bila perlu lanjutkan proses menyusui selama 2 tahun pertama kehidupan anak.

Baca Juga:  Mitos dan Fakta Corona Virus Menurut WHO

Sumber