Risiko pada Anak yang Tidak Diimunisasi

Risiko pada Anak yang Tidak Diimunisasi

Penulis: Emy | Editor: Atsa

Semua orang tua bertanggung jawab atas kesehatan anak mereka, termasuk melindungi mereka dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Berbagai penyakit seperti gondong, pertusis, hingga campak, penyakit-penyakit yang dahulu dianggap telah diberantas, bisa  kembali muncul jika anak tidak mendapat vaksin. 

Ada banyak alasan yang diberikan orang tua untuk menunda vaksinasi, mulai dari “Bayi saya menangis ketika ia mendapatkan suntikan,” hingga “Anak saya terlalu kecil untuk mendapatkan begitu banyak vaksin”. Bahkan, ada yang beranggapan jika vaksin mengandung bahan yang berbahaya. Tentu itu adalah mitos yang sangat salah.

Baca Juga: 6 Jenis Imunisasi Wajib untuk Bayi

Jika Anda merasa berat memberikan vaksin karena melihat anak rewel dan menangis, bayangkan penderitaan yang akan dialami anak Anda jika dia menderita penyakit serius yang sebenarnya bisa dicegah. Jika bukan karena vaksinasi, banyak anak-anak bisa sakit parah atau bahkan meninggal karena penyakit seperti campak, gondong dan batuk rejan. Berikut risiko yang dapat terjadi ketika seorang anak tidak divaksinasi:

Sistem Imun Rendah

Tidak mendapatkan vaksin imunisasi sejak bayi bisa berdampak pada lemahnya sistem imun. Anak-anak dan orang dewasa dengan sistem kekebalan yang lemah mengakibatkan ia justru sudah tidak dapat menerima beberapa vaksin karena sistem kekebalan yang lemah, atau mungkin masih bisa mendapatkan vaksin, namun tidak dapat bekerja dengan baik karena masalah imun sudah buruk.

Vaksin diformulasikan supaya tubuh mengembangkan antibodi untuk melawan penyakit tertentu. Jika seorang anak terpapar penyakit yang sebenarnya — misalnya, campak — tetapi belum divaksinasi terhadapnya, mereka hampir pasti dia akan menderita penyakit tersebut.

Gejala-gejala dari banyak penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, sehingga mencegah komplikasi serius hingga kematian.  

Baca Juga: Pentingnya Vaksin Imunisasi bagi Anak

Anak Mudah Menularkan Virus

Anak-anak yang tidak divaksinasi dapat menularkan penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan vaksin di sekolah dan di masyarakat.

  • Anak-anak yang tidak divaksinasi dapat menginfeksi bayi yang belum waktunya untuk diimunisasi lengkap.
  • Anak-anak yang tidak divaksinasi dapat menginfeksi orang-orang dari segala usia yang tidak dapat diimunisasi karena alasan medis — termasuk anak-anak dan orang dewasa dengan leukemia, kanker, masalah sistem kekebalan tubuh, dan orang-orang dari segala usia yang sedang menerima perawatan atau obat.

Intinya anak yang tidak mendapatkan vaksin akan meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

Terisolasi

Konsekuensi lain dari menghindari vaksin adalah bahwa seorang anak mungkin harus diisolasi. Mungkin juga ada kebutuhan untuk meminta anak-anak yang tidak divaksinasi untuk menjauh dari sekolah atau tempat penitipan anak untuk mencegah risiko penularan penyakit yang lebih parah. Hal tersebut secara signifikan dapat mempengaruhi studi mereka. Menjauh dari sekolah juga dapat menyebabkan isolasi sosial — kehilangan teman, dan tidak ikut serta dalam kegiatan sekolah.

Seorang anak yang rentan terhadap penyakit karena tidak mendapat vaksin bisa terisolasi karena rawan menularkan penyakit kepada, khususnya kepada bayi, anggota keluarga lanjut usia, anak-anak, dan orang dewasa dengan sistem kekebalan yang lemah. 

Orang tua juga mungkin harus tinggal di rumah dan meninggalkan tempat kerja selama anak mereka sakit. Gejala penyakit yang ditimbulkan anak tanpa imunisasi bisa menjadi lebih buruk daripada anak yang rutin mendapat imunisasi.

Baca Juga: Pentingnya Pemberian Vaksin Tetanus pada Anak

 

Sumber

IDAI. 2016. Apa Saja Mitos dan Fakta tentang Vaksinasi. www.idai.or.id

WHO. 2019. Q&A on Vaccines. www.who.int

Verywell Health. 2019. Who Is at Risk From Unvaccinated Kids?. www.verywellhealth.com

IAC. What If You Don’t Vaccinate Your Child?. www.immunize.org



Add Your Comment