Pengobatan Kemoterapi dan Efek Sampingnya

Image: medicalnewstoday.com

Penulis: Dhiya | Editor: Niahappy

Kemoterapi merupakan pengobatan yang bertujuan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi atau biasa disebut kemo ini telah berhasil mengobati berbagai jenis kanker secara efektif. Namun, sama seperti pengobatan lainnya, kemoterapi sering menimbulkan efek samping. Efek samping ini bergantung pada jenis kanker, obat-obatan, dan kondisi kesehatan Anda.

Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping karena bekerja pada sel-sel aktif. Sel aktif merupakan sel yang tumbuh dan dibagi menjadi lebih dari jenis sel yang sama. Sel-sel kanker aktif. Namun, begitu juga dengan beberapa sel sehat. Efek samping terjadi ketika kemoterapi merusak sel-sel sehat.

Beberapa orang sangat khawatir dengan efek samping dari kemoterapi dan jika terjadi akan seperti apakah nantinya? Untuk mengetahui lebih lanjut apa saja efek samping dari kemoterapi, berikut ulasan selengkapnya.

Baca Juga: Sebelum Terlambat, Kenalilah Ciri-ciri Kanker Payudara Stadium 1

1. Rambut Rontok

Jika Anda sering melihat orang dengan penyakit kanker banyak yang tidak memiliki rambut, hal itu disebabkan karena kemoterapi. Kemoterapi dapat merusak folikel rambut yang membuat rambut menjadi rapuh dan rontok. Jika kehilangan rambut terjadi, biasanya mulai dalam beberapa minggu setelah perawatan pertama, dan biasanya terjadi dalam satu atau dua bulan.

Namun, Anda tidak perlu khawatir karena tidak semua orang mengalami hal ini. Selain itu rambut juga dapat tumbuh kembali namun kemungkinan akan jauh lebih tipis atau memiliki warna yang berbeda. Rambut rontok umumnya bersifat sementara dan Anda harus mulai menumbuhkan rambut kembali segera setelah perawatan kemoterapi selesai.

2. Memar dan Berdarah

Kemoterapi dapat mengurangi jumlah sel atau trombosit dalam darah Anda yang bertujuan untuk membantu menghentikan pendarahan hebat. Namun, kemoterapi juga dapat menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami memar atau berdarah. Jika jumlah trombosit Anda rendah, Anda berisiko memiliki kulit yang mudah memar, hidung mimisan, dan gusi berdarah. Pendarahan yang terjadi setelah cedera serius bisa berbahaya. Sebaiknya Anda melakukan pencegahan seperti menggunakan sarung tangan saat memotong makanan.

3. Luka/Sakit di Mulut

Terkadang kemoterapi dapat membuat lapisan mulut terasa sakit atau disebut mucositis. Beberapa orang merasakan luka di mulut selama satu hingga dua minggu setelah menjalani kemoterapi. Rasa sakitnya pun dapat bervariasi tergantung luka atau infeksi yang dialami.

Gejalanya cenderung berkembang setelah kemoterapi seperti mulut kering, bau mulut, tidak nyaman saat makan dan minum, bagian dalam mulut terasa pegal, serta sariawan. Sebaiknya hindari makanan pedas, asin, atau yang makanan dengan rasa yang tajam. Solusinya Anda bisa menggunakan pasta gigi non-abrasif dan berkumur dengan air garam hangat.

4. Sistem Kekebalan Tubuh Melemah

Kemoterapi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh karena membunuh sel-sel sehat sehingga membuat seseorang rentan infeksi. Selain itu sebagian orang mengalami sakit atau muntah saat menjalani kemoterapi. Sebaiknya Anda konsumsi makanan sehat, sering mencuci tangan dan menghindari orang yang sakit.

Biasanya tim perawat Anda akan memberikan obat untuk mencegah atau mengurangi sakit seperti obat sembelit, obat gangguan pencernaan, obat sakit kepala, dan suntikan atau tetesan ke pembuluh darah.

5. Diare dan Sembelit

Efek samping ini biasanya terjadi setelah Anda melakukan kemoterapi. Karena kemoterapi dapat memicu masalah pencernaan yang dapat merusak sel yang membantu pencernaan. Efek samping seperti ini dapat membuat mual sehingga memaksa seseorang untuk mengubah dietnya. Perubahan mendadak inilah yang dapat menyebabkan masalah pencernaan. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengkonsumsi obat sembelit serta jaga tubuh tetap terhidrasi untuk mencegah dehidrasi karena diare.

6. Ruam pada Kulit

Karena kemoterapi menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan, sehingga memicu ruam dan perubahan pada kulit lainnya. Ruam yang parah membuat Anda gatal dan menyakitkan. Bahkan, berisiko terjadi infeksi jika Anda menggaruknya sampai berdarah. Beberapa kemoterapi dapat membuat kulit Anda menjadi kering, sedikit berubah warna, dan gatal. Anda bisa mengatasinya dengan cara menggunakan lotion atau pelembap anti gatal yang banyak dijual di pasaran.

7. Masalah Seks dan Kesuburan

Setelah kemoterapi, banyak yang merasa bahwa mereka kehilangan rasa tertarik pada seks. Sebaiknya sebelum mulai kemoterapi, tanyakan dulu ke tim medis apakah kesuburan Anda akan terpengaruh. Jika berisiko mengalami ketidaksuburan, Anda dapat mendiskusikannya dengan mereka.

Beberapa pengobatan kemoterapi dapat mengurangi kesuburan pada pria dan wanita. Sebagian bersifat sementara, tetapi bisa juga permanen. Anda juga harus menghindari hamil atau merawat bayi selama kemoterapi, karena obat-obatan kemoterapi sangat berbahaya pada bayi. Solusinya Anda dapat menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom.

Tingkat keparahan efek samping berbeda pada setiap orang. Jadi pastikan Anda sudah membicarakan dengan tim medis tentang efek samping mana yang paling umum, berapa lama akan bertahan, dan seberapa bahaya efek samping tersebut. Banyak efek samping yang dapat hilang dengan cepat. Namun, sebagian mungkin butuh waktu yang lama untuk sepenuhnya hilang. Kemungkinan dokter juga akan memberikan obat-obatan untuk membantu mencegah efek samping tertentu sebelum terjadi.

Baca Juga: Ingin Langsing dan Sehat? Coba Tips Diet Mediterania

Sumber:
American Cancer Society. Chemotherapy Side Effects. www.cancer.org
Medical News Today. (2018). What are the Side Effects of Chemotherapy?. www.medicalnewstoday.com
NHS. (2017). Side Effects Chemotherapy. www.nhs.uk
University of Rochester Medical Center. Chemotherapy’s Effects on Organs and Body Systems.  www.urmc.rochester.edu