Obat Beta-Blockers: Jenis, Kegunaan, dan Efek Samping

Obat Beta-Blockers: Jenis, Kegunaan, dan Efek Samping

Penulis: Silvia | Editor: Umi

Beta-blockers atau penghambat beta merupakan salah satu jenis obat yang paling banyak digunakan dalam dunia medis. Akan tetapi, paling sering golongan obat ini banyak diresepkan untuk mengatasi beberapa kondisi kesehatan jantung.

Cara kerja penghambat beta yakni dengan menghambat hormon epinephrine atau adrenalin pada jaringan reseptor beta, di mana reseptor beta yang terhambat akan mengurangi kontraksi otot jantung dan membuat jantung berdetak lebih lambat sehingga tekanan darah menurun.

Beta-blockers juga bekerja membantu mengurangi tekanan pada sistem vaskular dan mengendurkan pembuluh darah yang membantu alirannya menjadi lebih lancar. Sebelum memutuskan untuk mengonsumsi beta-blockers, penting bagi Anda mengetahui jenis-jenisnya, kegunaan, serta efek sampingnya berikut ini.

Baca Juga: Obat Antihipertensi untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Jenis Penghambat Beta

Sebagaimana telah dijelaskan, cara kerja beta-blockers yakni dengan menghambat reseptor beta di dalam tubuh. Dalam tubuh kita, ada 3 jenis reseptor beta, yakni:

  • Reseptor beta-1 (B1): umumnya terjadi di area jantung dan membantu mengatur aktivitas jantung.
  • Reseptor beta-2 (B2): biasanya terjadi di berbagai organ tubuh dan berperan dalam relaksasi atau pelemasan otot maupun proses metabolisme tubuh.
  • Reseptor b-3 (B3): berfungsi dalam membantu memecah sel lemak.

Adapun penggunaan obat-obatan penghambat reseptor beta umumnya hanya untuk reseptor B1 dan B2.

Beta-blockers juga bersifat selektif dan non-selektif. Jenis yang pertama bekerja dengan menargetkan pada jantung. Sementara beta-blockers non-selektif berperan dalam membantu mengurangi gejala pada bagian tubuh yang lain.

Kegunaan Beta-blockers

Nama lain dari beta-blockers adalah beta-antagonists, beta-adrenergic blocking agents, dan beta-adrenergic antagonists. Nama ini juga berkaitan dengan penggunaan beta-blockers yang bervariasi.

Berikut kegunaan beta-blockers untuk beberapa kondisi medis:

1. Gejala masalah kardiovaskular atau jantung

Salah satu kegunaan utama beta-blockers adalah untuk membantu meringankan gejala kondisi medis kardiovaskular, misalnya angina (nyeri dada), gagal jantung, irama jantung tak teratur (aritmia), hingga serangan jantung.

2. Migrain

American Academy of Neurology dan American Headache Society pada 2012 merekomendasikan propranolol dan metoprolol sebagai terapi farmakologi pertama untuk mencegah migrain. Kedua jenis obat tersebut merupakan golongan beta-blockers.

3. Glukoma

Kondisi ketika mata tertekan akibat cairan yang menyebabkan pandangan kabur. Kondisi ini umum terjadi pada lansia.

Penggunaan beta-blockers untuk glaukoma biasanya diaplikasikan pada obat tetes mata yang berfungsi menurunkan produksi cairan dan menurunkan tekanan pada mata. Penggunaannya harus sesuai resep dokter.

4. Kecemasan

Pada kasus ini, beta-blockers berperan dalam menghambat hormon stres. Penghambat beta hanya membantu mengurangi gejala fisik kecemasan, seperti berkeringat dan gemetar, tetapi tidak dapat menyembuhkan kecemasan.

Oleh karena itu, penderita kecemasan sebaiknya melakukan konseling dengan psikolog atau psikiater untuk membantu menghilangkannya.

5. Tiroid yang terlalu aktif

Orang yang memiliki kondisi ini biasanya mengalami gejala tremor dan kenaikan detak jantung. Maka dari itu, dokter terkadang memberikan beta-blockers untuk menghilangkan gejala.

6. Tremor

Jenis obat beta-blockers, seperti propranolol dan primidone dapat membantu mengontrol tremor. Penelitian mengungkapkan bahwa 50-60% orang yang memiliki gejala tremor berkurang setelah mengonsumsi propranolol, khususnya tremor di tangan.

Pemberian beta-blockers harus sesuai dengan resep dokter. Jadi, Anda tidak dapat secara individual mengonsumsinya tanpa persetujuan dokter.

Terlebih, beberapa orang tidak bisa terbantu meski mengonsumsi penghambat beta. Misalnya orang lanjut tua dan orang Afrika-Amerika.

Selain itu, konsumsi beta-blockers juga bisa memperburuk gejala pada orang dengan kondisi medis tertentu, seperti asma, COPD, atau masalah pernapasan dengan tekanan darah rendah (hipotensi).

Efek Samping

Ada beberapa efek samping yang umum ditemui setelah mengonsumsi obat golongan penghambat beta. Secara umum, efek samping ini bisa dirasakan secara fisik hingga psikis.

Adapun efek samping yang paling sering muncul di antaranya:

  • Tangan atau kaki dingin
  • Kelelahan
  • Bertambah berat badan
  • Detak jantung lambat atau bradikardia
  • Tekanan darah rendah
  • Mual dan muntah
  • Lemas dan pusing
  • Sembelit dan perut tidak nyaman

Beta-blockers pada penderita diabetes memiliki risiko menghambat sinyal gula darah rendah, seperti detak jantung cepat. Maka dari itu, penting untuk memeriksa kadar gula darah secara rutin jika Anda memiliki riwayat diabetes dan mengonsumsi obat jenis penghambat beta.

Obat ini juga bisa menimbulkan efek samping berupa peningkatan kadar trigliserida (lemak pada darah) dan kolesterol, serta menurunkan kolesterol baik (HDL) meskipun bersifat sementara.

Selain efek samping paling umum dan sering terjadi di atas, beberapa efek samping yang mungkin terjadi, tetapi jarang di antaranya:

Meski memiliki manfaat dan efek samping bagi tubuh, konsumsi obat dari golongan beta-blockers sebaiknya harus dalam pengawasan dan resep dokter. Menghentikan konsumsi penghambat beta secara mendadak juga bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah jantung lainnya. Karena itu, sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter agar Anda mendapatkan perawatan yang tepat.

Baca Juga: Jumlah Detak Jantung Normal dan Cara Menghitungnya

Sumber

Medical News Today. (2021). What You Need to Know about Beta Blockers. www.medicalnewstoday.com

Mayo Clinic. (2021). Beta Blockers. www.mayoclinic.org

Verywell Health. (2021). Using Beta Blocker Drugs. www.verrywellhealth.com

WebMD. (2021). Beta-Blockers for High Blood Pressure. www.webmd.com