Norepinephrine: Fungsi, Cara Pemakaian, dan Efek Samping

Norepinephrine: Fungsi, Cara Pemakaian, dan Efek Samping

Penulis: Justina | Editor: Ratna

Norepinephrine adalah obat yang cara kerjanya mirip dengan adrenalin, yaitu untuk mengobati kondisi tekanan darah rendah atau hipotensi yang dapat mengancam jiwa yang bisa terjadi dalam kondisi medis tertentu atau dalam prosedur bedah. Norepinephrine sering digunakan selama tindakan CPR atau resusitasi jantung paru.

Selain itu, dokter terkadang menggunakan norepinephrine untuk mengatasi syok septik, di mana racun dari infeksi akan menimbulkan respons peradangan pada seluruh tubuh. Bentuk lain dari syok adalah syok neurogenik di mana sinyal saraf ke seluruh tubuh akan terganggu, seringkali akibat cedera yang terjadi mengenai tulang belakang. Infeksi ini juga cenderung dapat menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya. Biasanya, norepinephrine diberikan melalui infus sehingga membantu untuk menyempitkan pembuluh darah sehingga tekanan darah menjadi naik. Beberapa orang yang mengalami ADHD atau depresi juga mengonsumsi obat yang dapat merangsang atau meningkatkan pelepasan hormon norepinephrine.

Baca Juga: Waspada Tekanan Darah Rendah, Ketahui Gejala dan Penyebabnya

Cara Pemakaian Norepinephrine

Sebelum menggunakan obat ini, sebaiknya beritahu perawat atau dokter jika Anda memiliki kondisi medis seperti:

  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes
  • Masalah pada sirkulasi
  • Penyakit arteri koroner
  • Tiroid yang terlalu aktif
  • Varises
  • Asma atau alergi sulfit

Anda juga perlu memberi tahu dokter atau perawat jika Anda sedang dalam keadaan hamil atau menyusui.

Obat norepinephrine diberikan melalui infus ke dalam pembuluh darah vena. Petugas kesehatan akan memberikan suntikan tersebut. Norepinephrine pada umumnya diberikan selama tubuh Anda memerlukan respon obat. Beberapa orang bahkan harus menerima norepinephrine selama beberapa hari.

Selain itu, saat menerima norepinephrine, tekanan darah, pernapasan, dan tanda-tanda vital lainnya perlu diawasi dengan ketat. Beri tahu perawat atau dokter jika Anda merasa sakit, timbul iritasi, sensasi rasa dingin atau rasa tidak nyaman lainnya pada kulit atau pembuluh darah tempat obat disuntikkan. Hati-hati saat menggunakan norepinephrine karena obat ini dapat merusak kulit atau jaringan di sekitar tempat suntikan jika secara tidak sengaja bocor keluar dari pembuluh darah.

Kemungkinan untuk melewatkan satu dosis norepinephrine sangat kecil karena obat ini hanya diberikan oleh petugas kesehatan dalam keadaan darurat. Namun, jika Anda mengalami gejala overdosis seperti detak jantung menjadi lambat, sakit kepala parah, muncul keringat, muntah-muntah, sangat sensitif terhadap cahaya, kulit menjadi pucat, serta nyeri dada yang menusuk segeralah hubungi petugas kesehatan.

Dosis pemberian norepinephrine disesuaikan dengan tujuan penggunaannya, yaitu sebagai berikut.

  • Untuk mengatasi hipotensi akut, obat diberikan sebanyak 8 sampai 12 mcg per menit melalui infus. Dosis akan meningkat sesuai dengan respon pengobatan yang diinginkan. Sedangkan untuk anak, dosisnya sebanyak 0,05 sampai 0,1 mcg/kg/menit melalui infus.
  • Pengobatan untuk tujuan mengatasi henti atau gagal jantung, dosis awal yaitu 8 sampai 12 mcg per menit melalui infus. Sedangkan untuk anak yaitu 0,05 sampai 0,1 mcg/kg.menit melalui infus.
  • Pengobatan yang bertujuan untuk mengatasi sepsis dan syok septik, pada orang dewasa akan diberikan sebanyak 0,01 sampai 3 mcg/kg/menit.

Efek Samping Norepinephrine

Segera hubungi petugas kesehatan jika Anda mengalami tanda-tanda reaksi alergi seperti gatal-gatal, bernapas menjadi sulit, pembengkakan yang terjadi pada bibir, lidah, tenggorokan, dan wajah. Anda juga perlu melapor ke dokter jika Anda mengalami gejala efek samping seperti berikut.

  • Kulit di mana injeksi norepinephrine diberikan terasa sakit, terbakar, berubah warna, atau muncul iritasi.
  • Mati rasa secara tiba-tiba, merasa lemah, atau merasa kedinginan.
  • Detak jantung menjadi lambat
  • Bibir atau kuku menjadi berwarna biru serta kulit berbintik-bintik
  • Menjadi sedikit atau tidak buang air kecil
  • Sulit untuk bernapas
  • Mengalami masalah dalam penglihatan, bicara, atau mengatur keseimbangan
  • Sakit kepala yang parah, penglihatan menjadi kabur, terasa berdebar-debar pada leher atau telinga.

Saat dokter menyarankan Anda untuk menggunakan obat ini, biasanya dokter sudah mengetahui adanya kemungkinan interaksi obat atau efek samping dan mungkin akan memantau Anda untuk itu. Namun, ada baiknya tetap memberitahukan obat apa saja yang Anda konsumsi kepada dokter. Jangan mulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat atau obat apapun sebelum mendapatkan informasi lebih lanjut dari dokter atau apoteker terlebih dahulu.

Baca Juga: Makanan Sehat Untuk Menaikkan Tekanan Darah

Sumber

Drugs. Norepinephrine. www.drugs.com

Everyday Health. (2015). What Is Norepinephrine?. www.everydayhealth.com

Healthline. (2018). What’s the Difference Between Epinephrine and Norepinephrine?. www.healthline.com

Medical News Today. (2019). What to know about epinephrine and norepinephrine. www.medicalnewstoday.com

MIMS. Norepinefrin. www.mims.com

RxList. Norepinephrine. www.rxlist.com

Very Wellmind. (2020). Norepinephrine’s Role in Treating Mood Problems. www.verywellmind.com