Mengenal Resistensi Antibiotik dan Pencegahannya

Mengenal Resistensi Antibiotik dan Pencegahannya

Penulis: Emy | Editor: Atsa

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Obat ini juga dikenal sebagai obat antimikroba.

Penyalahgunaan dan penggunaan yang berlebihan dari obat-obatan ini berkontribusi pada risiko yang dikenal sebagai resistensi antibiotik. Resistensi ini berkembang ketika bakteri yang berpotensi berbahaya berubah dengan cara mengurangi atau menghilangkan efektivitas antibiotik.

Baca Juga: Fungsi dan Fakta Antibiotik yang Perlu Diketahui

Tentang Resistensi Antibiotik

Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri dan jamur mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan obat yang dirancang untuk membunuh mereka. Itu berarti kuman tidak terbunuh, menjadi kebal, dan terus bertumbuh.

Resistensi antibiotik bukan berarti tubuh menjadi kebal terhadap antibiotik, namun bakteri telah menjadi resisten terhadap antibiotik yang dirancang untuk membunuh mereka. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang telah resisten sulit untuk diobati. 

Dalam banyak kasus, infeksi yang terjadi memerlukan rawat inap yang lebih lama, atau antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi dan mungkin lebih mahal. Tentu saja, efek samping dari antibiotik yang lebih keras juga lebih tinggi.

Siapa yang Berisiko Resistensi Antibiotik?

Semakin banyak orang menggunakan antibiotik, semakin besar kemungkinan resistensi akan terjadi. Antibiotik kini banyak dijual bebas, sehingga terkadang orang menggunakan antibiotik ketika mereka justru tidak membutuhkannya. 

Misalnya, antibiotik tidak bekerja melawan virus. Seperti halnya bakteri, virus adalah kuman yang dapat menyerang tubuh Anda dan menyebabkan infeksi. Pilek dan flu adalah sejenis virus. Inisiatif untuk memakai antibiotik dalam kasus ini tidak akan mengobati penyakit tersebut, justru dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik.

Tidak meminum semua antibiotik yang sudah diresepkan dokter juga meningkatkan risiko. Jika Anda berhenti menggunakannya terlalu dini, Anda mungkin tidak membunuh semua bakteri. Kuman yang tersisa mungkin menjadi resisten.

Gejala yang Bisa Terjadi

Infeksi dari bakteri yang kebal antibiotik dapat mempengaruhi hampir setiap bagian tubuh. Anda dapat merasakan gejalanya seperti merasa kebal terhadap suatu obat antibiotik dan penyakit tidak mereda. Namun, gejala ini saja tidak dapat memberitahu Anda apakah infeksi berasal dari bakteri yang kebal antibiotik atau faktor lain. Karena itu, pemeriksaan dokter juga diperlukan.

Baca Juga: Efek Samping Konsumsi Obat Antibiotik dalam Waktu Lama

Cara Mengobati Infeksi yang Kebal Antibiotik

Ketika seseorang memiliki resistensi antibiotik dan mengalami infeksi karena bakteri, dokter mungkin akan memberikan antibiotik khusus dengan dosis lebih tinggi yang dapat melawan infeksi. Tetapi, obat tersebut mungkin memiliki kelemahan tertentu seperti memiliki lebih banyak efek samping atau risiko meningkatkan resistensi.

Dalam beberapa kasus dan kondisi tertentu, dokter mungkin tidak memiliki pilihan lain sehingga memang harus memberikan antibiotik dengan dosis yang leboh tinggi untuk membantu Anda merasa lebih baik dan kembali sehat.

Cara Mencegah Resistensi Antibiotik

Cara terbaik untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik adalah dengan menggunakan antibiotik dengan benar sesuai resep dokter.

  • Jangan minum antibiotik untuk virus seperti pilek atau flu
  • Jangan menyimpan antibiotik untuk waktu berikutnya jika kembali sakit
  • Minum antibiotik persis seperti yang diresepkan. Jangan melewatkan dosis. Selesaikan seluruh pengobatan meskipun Anda merasa lebih baik.
  • Jangan pernah minum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain.

Baca Juga: Waspadai Gejala Alergi Antibiotik dan Penanganannya

 

Sumber

WHO. 2018. Antibiotic resistance. www.who.int

Medline Plus. 2018. Antibiotic resistance. www.who.int

WebMD. 2020. What You Need to Know About Antibiotic Resistance

FDA. 2019. Combating Antibiotic Resistance. www.fda.gov

CDC. 2020. Antibiotic Resistance Questions and Answers. www.cdc.gov



Add Your Comment