Mana Lebih Baik: Rokok Tembakau vs Rokok Elektrik?

Image: news.unchealthcare.org

Mulai diperkenalkan tahun 2000-an, kini rokok elektrik jadi tren baru yang digandrungi. Terkenalnya produk ini tidak lepas dari klaim yang menyebut rokok elektrik dapat bantu orang yang ingin lepas dari kecanduan rokok tembakau (tradisional).

Lalu, benarkah demikian?

Kandungan Rokok Biasa vs Rokok Elektrik

Secara umum, rokok elektrik terdiri dari beberapa bahan yaitu nikotin (bisa ada maupun tidak), propilen glikol, etilen glikol, polietilen glikol, gliserin, perasa buah, serta bahan kimia lainnya.

Rokok elektrik memang tidak mengandung tar dan karbon monoksida seperti pada rokok tembakau. Namun masih mengandung nikotin yang sebabkan kecanduan.

Nikotin dapat tingkatkan resiko darah tinggi serta diabetes. Zat perasa dalam cairan rokok elektrik pun disinyalir dapat menyebabkan bronchiolitis obliterans.

Menurut para ahli perlu adanya peraturan yang jelas tentang komposisi dan dosis pemakaian rokok elektrik. Sebab ada ketidaksesuaian antara label kemasan dengan kandungan nikotin pada beberapa produk. Tentu ini berbahaya, terutama untuk orang yang tidak toleran akan nikotin seperti pengguna awal.

Benarkah Rokok Elektrik Bisa Bantu Berhenti dari Rokok?

Beberapa penelitian menunjukan bahwa rokok elektrik bantu penderita rokok tembakau dari kecanduan. Salah satunya adalah penelitian di Inggris yang sebutkan 20% perokok berhasil berhenti merokok tembakau dengan metode rokok elektrik.

Hanya saja FDA tidak setuju bila rokok elektrik diklaim sebagai obat atau sarana untuk berhenti merokok tembakau. Hal ini disebabkan masih lemahnya bukti yang mengklaim hal tersebut. Tips terbaik jika ingin lepas dari rokok adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Hal yang dikhawatirkan adalah perokok malah menghisap sekaligus kedua rokok tersebut. Hal lain yang mesti diperhatikan adalah pemakaian rokok elektrik oleh remaja yang bahkan belum pernah mencoba rokok tembakau.

Mana Lebih Baik: Rokok Tembakau vs Rokok Elektrik?

Rokok elektrik memang lebih tidak berbahaya dibanding rokok tembakau. Tapi bukan berarti rokok elektrik benar-benar aman atau baik dikonsumsi.

Seperti yang sudah dikatakan, rokok elektrik mengandung nikotin yang timbulkan kecanduan. Bahkan beberapa rokok elektrik yang mengklaim bebas nikotin nyatanya masih mengandung nikotin.

Rokok elektrik juga bisa berbahaya bagi remaja, dewasa muda, dan ibu hamil. Faktanya, dalam jumlah tinggi nikotin dapat merusak perkembangan otak, berbahaya bagi janin, dan sebabkan kecanduan akut.

Saran Penggunaan

Rokok elektrik dapat bermanfaat bagi perokok dewasa yang tidak hamil sebagai pengganti rokok tembakau. Hanya saja akan lebih baik jika tidak merokok sama sekali.

Terutama para remaja yang belum pernah merokok, jangan pernah sesekali mencoba rokok elektrik maupun tembakau. Sekali kecanduan, akan sulit untuk lepas.

Sehubungan banyaknya pro dan kontra soal rokok elektrik, penelitian lebih dalam sangat diperlukan. Belum dikenal terlalu lama, tentunya sulit untuk identifikasi efek jangka panjang pemakaian rokok elektrik tersebut. Berhenti merokok total adalah langkah yang paling tepat.

Sumber:
Are E-Cigarettes Safer Than Regular Cigarettes? 2013. http://stopcancerfund.org
What We Know About Electronic Cigarettes. 2015. https://smokefree.gov/quit-smoking/ecigs-menthol-dip/ecigs
About Electronic Cigarettes (E-Cigarettes). 2018. https://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/e-cigarettes/about-e-cigarettes.html
Electronic Cigarettes. 2018. https://www.drugabuse.gov/publications/drugfacts/electronic-cigarettes-e-cigarettes