Ketahui Tentang Pemeriksaan Sperma: Kapan dan Bagaimana Prosedurnya

Penulis: Dita | Editor: Atsa

Tes sperma atau yang juga dikenal dengan sebutan semen analysis merupakan tes kesehatan yang dilakukan untuk menganalisis kualitas sperma seorang pria. Semen sendiri merupakan cairan sperma yang bercampur dengan gula dan beberapa substansi protein yang keluar saat seseorang mengalami ejakulasi.

Ada beberapa hal yang bisa dipastikan lewat tes sperma antara lain jumlah sperma, bentuk sperma hingga kemampuan sperma bergerak atau sperm motility.

Kapan Tes Sperma Harus Dilakukan?

Kebanyakan tes sperma disarankan kepada pria yang sedang berusaha untuk memiliki anak. Normalnya, setelah setahun program kehamilan dan pasangan masih belum hamil, tes sperma akan disarankan untuk dilakukan. Beberapa pakar kesehatan bahkan menganjurkan untuk melakukan tes setelah 6 bulan.

Selain untuk keperluan program kehamilan, tes sperma juga dibutuhkan oleh pria yang baru menjalani operasi vasektomi (operasi pencegahan kehamilan secara permanen para pria). Tes ini dilakukan untuk memastikan bahwa sudah tidak ada sperma dalam semen yang dikeluarkan saat ejakulasi. Setelah prosedur vasektomi, dokter biasanya akan merekomendasikan tes sperma sekali dalam satu hingga tiga bulan.

Sebelum melakukan tes sperma, ada beberapa hal yang bisa Anda jadikan petunjuk mengenai kualitas sperma yang Anda miliki.

  • Sperma yang sehat biasanya memiliki tekstur yang kental dan lengket. Ini juga menjadi petunjuk bahwa jumlah sel di dalamnya lebih banyak dan lebih mudah bertahan di dalam rahim untuk proses pembuahan
  • Warna juga bisa menjadi indikasi sehat atau tidaknya sperma seseorang. Sperma sehat warnanya cenderung putih keabuan. Ada sebagian orang yang memiliki sperma dengan warna sedikit kekuningan. Ini masih termasuk normal. Ketika warna sperma sudah kuning pekat atau kemerahan, ini bisa jadi pertanda ada masalah dengan organ reproduksi Anda dan pemeriksaan sperma harus segera dilakukan.
  • Bau sperma. Sperma yang sehat memiliki aroma mirip klorin atau cairan pemutih pakaian. Sperma yang berbau amis menandakan adanya infeksi pada organ reproduksi atau saluran kemih.
  • Volume cairan yang dikeluarkan dalam setiap kali ejakulasi juga menentukan sehat atau tidaknya kualitas sperma seseorang. Dalam satu kali ejakulasi, pria setidaknya akan mengeluarkan 2-5 ml sperma. Jika cairan yang keluar hanya sedikit, ini bisa jadi pertanda sperma Anda kurang sehat dan perlu dilakukan beberapa pemeriksaan.

Proses Tes Sperma di Laboratorium

Jika sulit memastikan kualitas sperma melalui observasi visual, disinilah Anda memerlukan bantuan laboratorium untuk memastikannya. Untuk menjalani proses tes, dokter biasanya akan memberitahukan apa saja yang harus dipersiapkan menjelang tes. Penting untuk mengikuti semua instruksi yang diminta agar Anda bisa mendapatkan hasil yang akurat.

Untuk mendapatkan sampel yang baik, yang harus dilakukan antara lain:

  • Hindari ejakulasi dalam 24 hingga 72 jam sebelum tes
  • Hindari alkohol, kafein apalagi obat-obatan terlarang selama 5 hari sebelum tes
  • Berhenti mengonsumsi obat-oabatan herbal sebelum tes
  • Hindari berbagai pengobatan hormone sebelum tes

Ada dua faktor yang penting untuk mendapatkan hasil tes sperma yang baik. Pertama, cairan semen harus tetap terjaga dalam temperatur yang sama dengan tubuh. Kalau terlalu hangat atau dingin, bisa berpengaruh pada hasilnya. Kedua, semen harus segera dibawa ke laboratorium dalam 30 menit hingga 1 jam setelah dikeluarkan dari tubuh.

Mengambil sampel sperma saat Anda sedang sakit atau stress juga bisa memengaruhi hasil pengujian. Konsultasikan pada dokter Anda tentang kapan dan bagaimana tes sperma bisa dilakukan.

Baca Juga: 7 Tips Mempertahankan Kesehatan Sperma

 

Sumber:
Healthline (2017). Semen Analysis and Test Results. www.healthline.com
Medical News Today (2018). What to Know About Sperm Analysis. www.medicalnewstoday.com
IVI Fertility (2018) When Do You Need Semen Analysis and What is Involved in the Sperm Test? www.ivi-fertility.com
Webmd (2018). What is Semen Analysis? www.webmd.com