Ketahui Penyebab Demam Kelenjar atau Mononukleosis

Ketahui Penyebab Demam Kelenjar atau Mononukleosis

Penulis: Ericha | Editor: Ratna

Demam kelenjar atau mononukleosis menular sering terjadi pada kalangan remaja dan orang dewasa. Virus ini menyebar melalui air liur, itulah sebabnya penyakit ini sering disebut sebagai mono atau ‘penyakit berciuman’. Selain itu, Anda juga bisa terpapar melalui gelas atau alat makan dengan seseorang yang memiliki mono.

Penyakit ini biasanya berasal dari infeksi virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes yang sangat menular. Infeksi sitomegalovirus dan rubella, yang dikenal sebagai campak Jerman, juga dapat menyebabkan demam kelenjar. Sedangkan toksoplasmosis atau infeksi parasit dapat menyebabkan gejala serupa.

Setelah Anda mengalami infeksi EBV, besar kemungkinan tidak akan tertular lagi. Setiap orang yang terkena EBV mungkin akan kebal terhadap mono selama sisa hidup mereka.

Baca Juga: 11 Penyebab Sakit Tenggorokan yang Harus Anda Ketahui

Penyebab

Demam kelenjar biasanya disebabkan oleh EBV. Virus ini umumnya menyebar melalui kontak langsung dengan air liur dari mulut orang yang terinfeksi atau cairan tubuh lainnya, seperti darah. Ini juga dapat menyebar melalui kontak seksual dan transplantasi organ.

Namun, pengujian ketat terhadap darah yang ditransfusikan dan organ yang ditransplantasikan membuat risiko terkena demam kelenjar melalui cara-cara ini sangat rendah.

Anda bisa terkena virus melalui batuk, bersin, berciuman, dan berbagi makanan dengan seseorang yang mengidap demam kelenjar. Biasanya diperlukan waktu 4 hingga 8 minggu untuk gejala berkembang setelah Anda terinfeksi.

Saat EBV memasuki tubuh, pertama kali menginfeksi lapisan tenggorokan. Kemudian sel darah putih yang disebut limfosit B dapat menyebabkan infeksi ke bagian tubuh lain, termasuk hati dan limpa.

Seseorang yang tertular infeksi saat remaja atau dewasa muda lebih mungkin mengalami demam kelenjar. Infeksi ini umumnya muncul pada mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun.

Virus tetap berada di dalam tubuh seumur hidup, tertidur pada tenggorokan dan sel darah. Antibodi memberikan kekebalan seumur hidup, dan demam kelenjar jarang kembali untuk kedua kalinya.

Baca Juga: Gejala Infeksi Virus pada Kelenjar Parotitis yang Perlu Diketahui

Masa Inkubasi

Masa inkubasi virus adalah waktu antara saat Anda tertular infeksi dan saat Anda mengalami gejala. Biasanya berlangsung selama 4 hingga 6 minggu. Tanda dan gejala demam kelenjar biasanya berlangsung selama 1 hingga 2 bulan.

Beberapa gejala seperti sakit tenggorokan dan demam, biasanya berkurang setelah 1 atau 2 minggu. Sedangkan, gejala lain termasuk pembengkakan kelenjar getah bening, kelelahan, dan pembesaran limpa dapat berlangsung beberapa minggu lebih lama.

Gejala

Satu atau lebih dari gejala berikut ini biasanya muncul sekitar satu minggu atau lebih. Gejala kemudian berangsur-angsur hilang selama seminggu berikutnya.

  • Sakit tenggorokan. Tenggorokan Anda biasanya sangat sakit, merah, dan bengkak. Menelan seringkali menyakitkan dan air liur bisa menggenang dalam mulut Anda.
  • Kelenjar bengkak. Saat sistem kekebalan tubuh Anda melawan virus, hal itu menyebabkan kelenjar getah bening membengkak. Biasanya kelenjar pada leher adalah yang paling menonjol serta tampak besar dan empuk.
  • Gejala mirip flu. Demam kelenjar seringkali menyebabkan suhu tinggi (demam), nyeri otot, dan sakit kepala. Hal itu membuat Anda merasa tidak enak badan.
  • Malaise. Rasa lelah yang hebat seringkali timbul dengan demam kelenjar. Ini merupakan gejala terakhir yang hilang.
  • Bengkak pada area sekitar mata. Sekitar 1 dari 5 orang dengan demam kelenjar menjadi sangat bengkak pada area sekitar mata dan berlangsung dalam waktu singkat.
  • Pembesaran limpa. Organ ini berada pada bagian bawah tulang rusuk pada sisi kiri perut dan merupakan bagian dari sistem kekebalan. Seperti kelenjar getah bening, kelenjar ini membengkak dan terkadang terasa di bawah tulang rusuk jika Anda mengalami demam kelenjar. Biasanya menyebabkan nyeri ringan pada bagian perut kiri atas.
  • Tidak ada gejala. Banyak orang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala. Ini disebut infeksi subklinis, dan sering terjadi pada anak-anak dan mereka yang berusia lebih dari 40 tahun.

Pengobatan

Tidak ada obat untuk demam kelenjar. Namun, kebanyakan orang menemukan bahwa gejala mereka hilang dalam 2 hingga 4 minggu bahkan tanpa pengobatan, meski kelelahan bertahan lebih lama. Faktanya, penelitian menemukan bahwa 9-22% orang terus mengalami kelelahan selama 6 bulan setelah mengembangkan infeksi.

Anda dapat mengambil langkah-langkah berikut untuk membantu mengurangi gejala demam kelenjar yang terjadi, antara lain:

  • Istirahat yang cukup
  • Tetap terhidrasi
  • Makan sup ayam hangat
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang anti-inflamasi dan kaya antioksidan, seperti sayuran berdaun hijau, nasi merah, apel, dan salmon.
  • Menggunakan obat pereda nyeri yang dijual bebas (OTC) seperti acetaminophen (Tylenol).

Jangan pernah memberikan aspirin kepada anak-anak atau remaja karena dapat menyebabkan sindrom reye, kelainan langka yang dapat menyebabkan kerusakan hati dan otak.

Baca Juga: Pembengkakan Kelenjar Getah Bening: Penyebab dan Cara Mengobatinya

Sumber

Healthline. (2019). Mono: Causes, Symptoms, and Diagnosis. www.healthline.com

Mayo Clinic. (2020). Mononucleosis. www.mayoclinic.org

Medical News Today. (2020). Glandular fever: Symptoms, treatment, causes, and diagnosis. www.medicalnewstoday.com

Patient. (2021). Glandular Fever | Symptoms, Diagnosis, and Treatment. www.patient.info