Ketahui Penyebab dan Gejala Batuk Rejan (Pertusis)

Ketahui Penyebab dan Gejala Batuk Rejan (Pertusis)

Penulis: Agnes | Editor: Umi

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja. Di beberapa negara, pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk 100 hari. Penderita pertusis biasanya mengalami gejala umum, seperti batuk keras secara terus-menerus, kesulitan bernapas, dan muntah.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat terdapat 30 sampai 50 juta kasus batuk rejan per tahun di dunia dan 300.000 diantaranya menyebabkan kematian. Untuk itu, Anda perlu mengetahui penyebab dan gejala batuk rejan guna terhindar dari penularan penyakit ini.

Baca Juga : Ketahui Perbedaan Batuk Biasa dengan Batuk TBC

Penyebab Batuk Rejan (Pertusis)

Batuk rejan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Batuk rejan hanya terjadi pada manusia. Bakteri ini menempel pada saluran bagian atas yaitu hidung dan tenggorokan. Bakteri ini akan melepaskan racun sehingga menyebabkan pembengkakan pada saluran pernapasan manusia.

Meski batuk rejan dapat menyerang orang di segala usia, tetapi bisa mematikan bagi bayi dan anak kecil sehingga Anda patut mewaspadai penyakit ini.

Pertusis bahkan dapat menimbulkan komplikasi, seperti pneumonia, infeksi telinga, perdarahan otak, kekurangan oksigen atau ensefalopati hipoksia, hingga retaknya tulang rusuk akibat batuk yang terlalu keras. Dalam beberapa kasus, batuk rejan dapat menimbulkan kematian karena komplikasi yang ditimbulkannya.

Gejala yang Ditimbulkan

Batuk rejan dapat ditularkan melalui udara dan kontak langsung dengan droplet (cipratan air liur saat batuk atau bersin) penderita pertusis. Tanpa perawatan yang baik, penderita batuk rejan dapat menularkan penyakit ini kepada orang lain.

Gejala pertusis dapat bertahan sampai berminggu-minggu meskipun penderita sudah dinyatakan sembuh. Hal ini karena bakteri dapat bertahan akibat dari rusaknya saluran pernapasan. Gejala pertusis terbagi menjadi 3 tahap sebagai berikut.

Tahap Awal

Pada tahap awal, gejala pertusis pada orang dewasa dan anak kecil tidak sama. Pada minggu pertama hingga minggu kedua, orang dewasa yang terinfeksi Bordetella pertusis akan menunjukkan gejala flu ringan, seperti pilek, demam, dan batuk.

Pada bayi penyakit ini justru tidak menunjukkan gejala batuk. Bayi yang terkena pertusis akan mengalami apnea. Apnea adalah jeda dalam pernapasan yang cenderung melambat sehingga hal ini patut diwaspadai.

Pada tahap ini, penderita batuk rejan dapat menularkan penyakit kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting sekali untuk memperhatikan kebersihan dan kontak terhadap penderita. Gunakanlah masker dan sarung tangan, serta jauhkanlah anak-anak dari penderita batuk rejan.

Tahap Paroksismal

Selama 2 hingga 6 minggu, penyakit pertusis akan semakin berkembang. Gejalanya ditandai dengan kelelahan dan muntah setelah batuk hebat yang disebut parokism. Saat mengalami pertusis Anda terpaksa menghirup udara dari mulut dengan suara rejan yang keras.

Tahap Penyembuhan

Pada tahap ini penderita mulai mengalami pemulihan, tetapi secara perlahan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam penyembuhan pertusis tergantung dari proses pengobatannya.

Penderita bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk sembuh total dari penyakit ini. Meskipun demikian, penderita yang dinyatakan sembuh masih bisa menularkan pertusis.

Bakteri Bordetella pertusis dapat bertahan lama pada saluran pernapasan akibat dari kerusakan sistem pernapasan. Oleh karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat diperlukan untuk mencegah penularan dan penyembuhan bagi penderita batuk rejan.

Lakukan Pemeriksaan

Jika Anda mengalami ciri-ciri di atas, segera periksakan diri ke dokter. Selama pemeriksaan, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan mendengarkan keluhan yang dirasakan dan riwayat kesehatan penderita. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan pada pernapasan secara menyeluruh untuk memastikan penderita mengalami pertusis.

Pada tahap awal, penyakit pertusis ini akan sulit dideteksi karena gejalanya yang mirip dengan flu biasa. Untuk itu, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan dengan tes laboratorium yang meliputi:

  • Pengambilan sampel lendir dari belakang tenggorokan yang diambil melalui hidung untuk melihat keberadaan bakteri Bordetella pertusis.
  • Tes PCR atau polymerase chain reaction dapat mendiagnosis penyakit batuk rejan dengan mendeteksi DNA pertusis yang ada di dalam tubuh pasien.
  • Tes darah dilakukan untuk memeriksa jumlah sel darah putih dalam tubuh. Jika jumlah sel darah putih cukup tinggi, dapat dipastikan tubuh terinfeksi bakteri pertusis.
  • Rontgen dilakukan dengan menggunakan sinar X-ray. Tujuannya untuk memeriksa jumlah cairan yang ada di paru-paru yang biasa terjadi pada penyakit paru-paru.

Dengan mengetahui penyebab dan gejala batuk rejan, Anda dapat melakukan upaya pencegahan dini agar terhindar dari penyakit tersebut. Jika Anda merasakan beberapa gejala di atas, segera periksakan diri Anda ke dokter.

Baca Juga : Batuk Terus-menerus dan Tak Kunjung Sembuh? Ketahui 9 Penyebabnya

 

Sumber

Center for Disease Control and Prevention. 2017. Pertussis (Whooping Cough). www.cdc.gov
Kambang, Sariadji, dkk. 2016. Studi Kasus Bordetella Pertussis pada Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah yang Dideteksi dengan PCR. Jakarta: Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Kemenkes RI.
Mayo Clinic. 2019. Whooping Cough. www.mayoclinic.or
National Library of Medicine. 2006. Bordetella Pertussis infections in vaccinated and unvaccinated adolescents and adults, as assessed in a national prospective randomized Acellular Pertussis Vaccine Trial (APERT). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
Verywell Health. 2020. On Overview of Pertussis in Adults. www.verywellhealth.com
WHO. Pertusis. www.who.int