Ketahui Jenis Vaksin yang Dianjurkan Sebelum Menikah

Ketahui Jenis Vaksin yang Dianjurkan Sebelum Menikah

Penulis: Justina | Editor: Ratna

Sebelum menikah, sebaiknya calon pengantin harus mempersiapkan semua hal seperti pemeriksaan prenatal dan mengonsumsi banyak makanan sehat, rutin berolahraga, dan istirahat yang cukup. Selain itu, Anda juga perlu melakukan vaksinasi yang harus dilakukan sebelum menikah.

Vaksin perlu Anda lakukan sebelum menikah karena setelah menikah pada umumnya pasangan suami istri ingin menginginkan kehamilan. Kehamilan ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh ibu untuk mendukung bayi yang sedang tumbuh, hal tersebut dianggap oleh tubuh sebagai zat asing sehingga berisiko lebih besar jika suatu saat ibu terpapar sesuatu yang berdampak negatif untuk kesehatan.

Selain itu, mendapatkan vaksin sebelum menikah juga lebih efektif untuk mencegah penularan penyakit, seperti penyakit yang menular lewat kontak langsung dengan kulit atau melalui hubungan seksual, sampai gangguan kesehatan yang menular dari ibu hamil ke janin. Berikut beberapa vaksin yang disarankan untuk pasangan yang akan menikah dan memiliki anak.

1. Cacar Air (Varicella)

Cacar air yang terjadi saat dewasa bisa menjadi penyakit yang serius. Hal itu jika terjadi saat Anda sedang hamil, dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan masalah bagi calon bayi yang sedang tumbuh. Oleh karena itu, sebelum Anda hamil, periksakan diri ke dokter untuk mengetahui apakah Anda memerlukan vaksinasi varicella atau tidak. Hal ini karena ibu hamil sebaiknya tidak mendapatkan vaksin tersebut.

Jika pemeriksaan darah yang dilakukan menunjukkan bahwa Anda tidak kebal terhadap cacar air, maka vaksin akan membantu Anda untuk menghindari terkena cacar air. Namun, jika Anda belum pernah mendapatkan dua dosis vaksin varicella sebelumnya, Anda memerlukan dua dosis dengan interval empat hingga delapan minggu. Oleh karena itu, sebaiknya tunda kehamilan sampai sebulan setelah dosis kedua Anda.

2. Vaksin Campak, Gondongan, dan Rubella (MMR)

Rubella atau campak Jerman dapat berdampak keguguran dan cacat lahir. Sedangkan infeksi gondok juga meningkatkan risiko keguguran dan campak akan meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah. Selain itu, vaksin MMR ini tidak bisa Anda dapatkan selagi Anda hamil, oleh karena itu penting untuk mendapatkan vaksin ini sebelum Anda menikah.

Selain itu, jika catatan vaksinasi Anda menunjukkan bahwa Anda telah mendapat vaksinasi MMR saat masih muda, Anda dianggap telah terlindungi dari ketiga penyakit tersebut seumur hidup dan tidak lagi membutuhkan dosis booster. Namun, jika Anda tidak mendapat vaksinasi sesuai dengan jadwal saat masih kanak-kanak, Anda harus melakukan vaksin dan kemudian harus menunggu satu bulan sebelum mencoba untuk hamil.

Jika Anda tidak yakin apakah Anda sudah mendapat vaksinasi MMR dan tidak dapat menemukan catatan vaksinasi Anda, maka sebaiknya segeralah untuk mendapatkan vaksin sekarang sebelum Anda hamil. Bahkan, meski jika Anda sudah mendapat vaksin sebelumnya, hal ini sangat aman untuk mendapatkan dosis tambahan.

Baca Juga: Mengenal Vaksin Rubella atau Vaksin MMR

3. Vaksin Hepatitis B

Jika Anda memiliki risiko yang tinggi untuk terkena infeksi virus yang menyerang hati ini, maka Anda harus waspada. Hal ini karena hepatitis B dapat menular ke bayi yang belum lahir, sehingga dapat menimbulkan kondisi gagal hati dan kanker hati. Vaksin untuk mencegah hepatitis B terdiri dari tiga dosis suntikan, tapi Anda tidak perlu menyelesaikan ketiga dosis ini sebelum hamil. Hal ini karena vaksinasi tetap aman untuk dilanjutkan selama Anda sedang hamil.

4. Vaksin HPV

Human papillomavirus atau HPV adalah virus yang dapat menyebabkan sebagian besar kasus kanker serviks dan kutil kelamin. Saat ini, dua dosis vaksin HPV telah direkomendasikan untuk diberikan pada anak-anak usia 11 sampai 12 tahun, meskipun vaksin ini juga masih bisa diberikan kepada anak-anak yang berusia 9 tahun. Dosis ketiga vaksin HPV mungkin akan Anda perlukan, jika anak-anak tidak divaksinasi sampai mereka lebih tua.

Vaksin HPV juga direkomendasikan untuk orang dewasa hingga usia berusia 27 tahun untuk wanita dan usia 22 tahun untuk pria yang sebelumnya belum pernah diberi vaksin HPV saat masih anak-anak. Orang dewasa berusia 27 hingga 45 tahun juga dapat berkonsultasi kepada dokter untuk mengetahui apakah mereka juga harus menerima vaksin jika belum mendapat vaksin HPV sama sekali. Namun, vaksin HPV tidak dianjurkan selama hamil dan harus menunda sampai setelah melahirkan jika Anda belum mendapat vaksin dan masih berusia 26 tahun atau lebih muda.

Akan tetapi, Anda tidak perlu terlalu khawatir jika Anda menerima satu dosis vaksin saat sebelum mengetahui bahwa Anda sedang hamil. Hal ini karena studi terbaru telah menunjukkan tidak ada bukti konklusif bahwa vaksin HPV dapat membahayakan bayi yang belum lahir, bahkan jika diberikan pada awal kehamilan. Namun, ada baiknya jika Anda menghindari pemberian dosis vaksin HPV lagi sampai setelah Anda melahirkan setelah Anda sudah pasti tahu bahwa Anda sedang hamil.

5. Vaksin DPT dan TT

Tetanus adalah suatu infeksi akibat karena bakteri yang masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka pada kulit. Racun akibat bakteri ini dapat menimbulkan gejala yang berpengaruh pada sistem saraf seperti kejang pada otot. Selain itu, bakteri difteri dan pertusis juga dapat menyebar melalui batuk dan bersin yang menimbulkan masalah pernapasan yang parah. Oleh karena itu, orang dewasa perlu menerima vaksin DPT atau Difteri Pertusis Tetanus. Selain itu, wanita yang akan menikah sebaiknya mendapatkan vaksin TT, terutama jika saat masih anak-anak belum mendapat vaksin lengkap.

Baca Juga: Perbedaan Vaksinasi dan Imunisasi

Sumber

CDC. (2021). Measles, Mumps, and Rubella (MMR) Vaccination: What Everyone Should Know. www.cdc.gov

NHS. (2019). HPV vaccine overview. www.nhs.uk

NHS. (2021). Hepatitis B vaccine overview. www.nhs.uk

The Woman’s Clinic. 5 Vaccines Every Woman Needs. www.arobgyn.com

What to Expect. (2021). Vaccines to Get Before and During Pregnancy. www.whattoexpect.com