Kekerasan pada Anak dan Dampak Negatif bagi Mentalnya

Kekerasan pada Anak dan Dampak Negatif bagi Mentalnya

Penulis: Anita | Editor: Ratna

Sudah sewajarnya, anak merupakan permata dan generasi penerus yang berharga serta perlu dijaga. Sayangnya, ada beberapa oknum yang tega melakukan kekerasan pada anak. Bahkan, berdasarkan data pada tahun 2021, terdapat 5.463 kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia.

Kasus ini umumnya terjadi di rumah, tapi anak juga bisa mengalami perlakuan buruk di sekolah ataupun tempat umum. Dampak negatif dari perlakuan buruk ini tidak hanya timbul pada masa kini saja, tapi juga bisa mempengaruhi Si Kecil saat dewasa nantinya.

Baca Juga: Ketahui Dampak Negatif Kekerasan pada Anak

Baca Juga: 

Dampak Negatif Secara Fisik

Efek negatif kekerasan terhadap anak yang biasanya paling terlihat adalah pada tubuhnya, apalagi jika anak kerap kali mengalami kekerasan secara fisik. Kadang kala dampak dari kekerasan secara fisik bisa saja baru terlihat beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun setelah kejadian.

1. Gangguan Fisik

Masalah fisik yang mereka alami tidak hanya sekedar lebam akibat pukulan ataupun malnutrisi. Anak yang mengalami kekerasan juga bisa memiliki peningkatan risiko terkena penyakit atau gangguan fisik, seperti kerusakan otak, tekanan darah tinggi, serangan jantung, sakit punggung, stroke, dan kanker.

Penyakit yang dirasakan bisa terjadi secara jangka panjang atau bahkan baru muncul pada masa yang akan datang.

2. Otak Kurang Berkembang

Dari luar, Si Kecil mungkin terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya kekerasan terhadap anak bisa menyebabkan terhambatnya perkembangan fungsi atau ukuran otak.

Tergantung dari bagian otak mana yang terganggu. Anak bisa mengalami kesulitan dalam mengolah emosi, masalah pada memori, ataupun gangguan pada sistem motorik.

Dampak Negatif Kekerasan pada Anak Secara Psikis dan Perilaku

Tidak hanya secara fisik, anak yang mengalami kekerasan juga bisa merasakan dampak negatif secara mental yang dapat muncul saat buah hati sudah dewasa.

1. Gangguan Perkembangan dan Pembelajaran

Anak yang mengalami kekerasan bisa saja memiliki kesulitan untuk fokus, mempelajari hal baru, ataupun mengingat sesuatu. Bahkan, kekerasan terhadap anak bisa menghambat perkembangan bahasa dan kemampuan Si Kecil dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Gangguan Mental

Kekerasan ini dapat meningkatkan kemungkinan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Tak jarang, anak yang mengalami kekerasan pada masa kecilnya menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang membuatnya merasa takut, marah, dan sering teringat kejadian kekerasan yang telah terjadi.

Gangguan mental yang mereka derita bisa berlanjut hingga anak sudah dewasa dan pada kasus yang parah berujung ke bunuh diri. Keinginan untuk bunuh diri juga bisa terpicu akibat rasa malu dan kecewa yang muncul pasca kejadian.

Kadangkala, anak tidak menunjukkan keinginan untuk bunuh diri tapi memiliki kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri (self-harm). Riset di BMC Psychiatry pada tahun 2018 menemukan bahwa kekerasan terhadap anak dapat memicu anak untuk melukai dirinya sendiri.

3. Kesulitan dalam Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Memiliki hubungan yang baik dan sehat sangatlah penting untuk kehidupan sehari-hari. Namun, kekerasan terhadap anak bisa mempengaruhi cara anak berhubungan sosial dengan orang sekitarnya, khususnya pasangan hidupnya, saat sudah dewasa.

Di kemudian hari, anak bisa merasa tidak percaya diri dan mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan yang intim serta terbuka dengan orang lain.

4. Menerapkan Perilaku Buruk

Anak yang mengalami kekerasan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi di kemudian harinya untuk melakukan hal-hal yang berbau kriminal, menggunakan obat-obatan terlarang, mengonsumsi alkohol secara berlebih, dan melakukan hubungan seksual yang riskan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Kekerasan terhadap anak bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, karenanya Anda perlu melapor ke Komisi Perlindungan Anak (KPAI) apabila Anda melihat adanya tanda-tanda anak mengalami kekerasan di sekitar rumah maupun tempat umum.

Kekerasan terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh orangtua tapi juga bisa dilakukan oleh pihak lain seperti guru atau bahkan teman sebaya.  Para orangtua perlu lebih peka terhadap kondisi anak dan jeli dalam melihat ciri-ciri kemungkinan buah hati mengalami kekerasan di luar rumah.

Baca Juga: Pahami Dampak Broken Home bagi Anak

Sumber

Australian Institute of Family Studies. (2014). Effects of child abuse and neglect for children and adolescents. aifs.gov.au/cfca

BMC. (2018). The impact of child maltreatment on non-suicidal self-injury. Bmcpsychiatry.biomedcentral.com

Child Welfare Information Gateway. (2019). Long-Term Consequences of Child Abuse and Neglect .www.childwelfare.gov

Mayo Clinic. (2018).  Child abuse. www.mayoclinic.org