Gejala Autoimun dan Cara Mendeteksinya

Gejala Autoimun dan Cara Mendeteksinya

Penulis: Dita | Editor: Atsa

Sistem imun atau kekebalan tubuh yang kita miliki bertugas menjaga dan melindungi kita dari infeksi dan penyakit. Ketika terjadi kesalahan karena penyakit autoimun, alih-alih menyerang zat asing yang masuk, sistemnya malah salah mengenali sel sehat dalam tubuh kita dan merusaknya. Penyakit autoimun ini bisa berdampak ke berbagai bagian tubuh.

Belum ada penelitian yang bisa menjelaskan dengan pasti apa yang menyebabkan munculnya penyakit autoimun. Namun biasanya autoimun diturunkan dalam keluarga. Wanita terutama yang memiliki ras Afrika-Amerika, Hispanik-Amerika dan ras Amerika asli memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa penyakit autoimun.

Tercatat ada lebih dari 80 macam penyakit autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala yang mirip satu sama lain. Karena itu, banyak tenaga kesehatan kesulitan untuk menentukan apakah seseorang menderita autoimun termasuk mendeteksi jenis mana yang dia derita. Adapun beberapa gejala yang umum terjadi pada penderita penyakit autoimun antara lain:

  • Kelelahan yang berlebihan
  • Sakit atau nyeri otot
  • Demam dengan suhu yang tidak terlalu tinggi
  • Salah satu gejala paling umum yang kerap ditemui pada pasien autoimun adalah inflamasi yang bisa menyebabkan kulit kemerahan, panas, perih dan bengkak

Penyakit ini biasanya kerap kambuh. Ada kondisi di mana pasien akan merasakan munculnya gejala yang sangat parah, bisa juga gejala ini mereda. Langkah pengobatan yang bisa dilakukan biasanya tergantung dari penyakitnya. Namun secara umum tenaga kesehatan akan memberikan pengobatan untuk mengurangi terjadinya inflamasi. Kadang, dokter juga akan meresepkan kortikosteroid atau obat lain yang akan membantu mengurangi respon kekebalan tubuh.

Cara Mendeteksi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, gangguan autoimun cenderung sulit dikenali dan didiagnosis. Tidak ada satu cara tunggal yang bisa digunakan untuk mendeteksinya. Gangguan yang memengaruhi banyak organ dapat menyebabkan munculnya tanda dan gejala yang bervariasi. Tingkat keparahannya juga bisa berubah dari waktu ke waktu.

Beberapa pertanda dan gejala yang muncul dengan samar dan lambat dapat menyesatkan selama proses diagnosis. Dokter biasanya akan melakukan tes laboratorium untuk mendiagnosis gangguan yang dicurigai sebagai penyakit autoimun. Tes ini biasanya termasuk tes darah, tes autoantibodi dan tes peradangan.

Beberapa tes lain yang juga bisa digunakan untuk membantu proses diagnosis antara lain adalah:

  • Tes antibodi. Tes ini dilakukan untuk mengukur pola aktivitas dan kadar antibodi pada darah dan kadarnya dalam melawan infeksi asing
  • CBC. Tes ini melingkupi pemeriksaan darah secara lengkap termasuk kadar sel darah merah, putih dan hemoglobin. Tes ini juga dapat digunakan untuk memeriksa organ tubuh seperti ginjal dan fungsi hati
  • Panel metabolisme komprehensif. Tes ini termasuk ke dalam tes darah yang dilakukan untuk mengetahui gambaran keseluruhan mengenai keseimbangan dan metabolisme kimiawi di dalam tubuh kita
  • CRP (C-reactive Protein). Tes ini juga disebut dengan tes peradangan yang dilakukan dengan kadar protein aktif yang ada di dalam darah
  • ESR. Tes ini dilakukan dengan mengukur laju sedimentasi eritrosit/kecepatan endap sel darah merah
  • Urinalisis. Tes urin merupakan tes yang dilakukan untuk memeriksa adanya masalah pada saluran kencing hingga kemungkinan diabetes. Tes ini juga kerap dilakukan untuk memeriksa status kesehatan seseorang secara umum.

Karena gejalanya yang kerap sulit dikenali, penderita mungkin perlu melakukan beberapa kali kunjungan ke dokter. Jika mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri.

Baca Juga: Gejala Penyakit Lupus dan Penyebabnya

 

Sumber:

Healthline (2019). Autoimmune Diseases: Types, Symptoms, Causes and More. www.healthline.com
Medline Plus (2019). Autoimmune Disorders. www.medlineplus.gov
Lab Test Online (2019). Autoimmune Disease. www.labtestsonline.org
Webmd (2018). What is Autoimmune Disorders. www.webmd.com