Pahami Risiko Cacar Air pada Ibu Hamil

Pahami Risiko Cacar Air pada Ibu Hamil

Penulis: Anggita | Editor: Opie

Biasanya, cacar air terjadi pada orang yang belum pernah terinfeksi atau mendapat vaksinasi cacar air sebelumnya.

Salah satu kelompok rentan yang berisiko terkena cacar air adalah ibu hamil.

Pahami risiko cacar air pada ibu hamil dengan membaca artikel berikut ini.

Baca Juga: Waspadai Abortus Inkomplit pada Ibu Hamil

Penyebab

Virus yang menyebabkan penyakit cacar air adalah varicella-zoster, sehingga cacar air juga sering disebut dengan varicella.

Gejalanya bisa muncul sekitar dua minggu setelah Anda terinfeksi virus tersebut.

Cacar air bisa menyebar lewat kontak udara dari orang-orang yang terinfeksi meskipun gejalanya belum muncul.

Selain itu, kondisi ini juga bisa menyebar lewat cairan yang berasal dari lepuhan di kulit.

Biasanya, orang yang sudah terinfeksi cacar air akan membentuk kekebalan tubuhnya sendiri.

Namun bagi orang yang belum kebal, maka Anda masih bisa terpapar virus varicella.

Risiko pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang terinfeksi cacar air perlu mendapatkan perawatan segera, pasalnya cacar air bisa mengakibatkan komplikasi kehamilan, seperti:

  • Pneumonia

Salah satu dampak yang bisa terjadi pada ibu hamil adalah pneumonia.

Pneumonia merupakan kondisi ketika paru-paru mengalami infeksi. Komdisi ini bisa menyebabkan gejala tertentu, seperti:

    • Gejala flu
    • Sakit dada
    • Sulit bernapas
    • Batuk yang semakin parah
    • Kelelahan ekstrem
    • Demam atau kedinginan

Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh dan janin Anda tidak bisa mendapat cukup oksigen.

Bahkan dalam kasus yang parah, pneumonia bisa mengakibatkan kelahiran prematur pada bayi, yaitu bayi yang lahir sebelum minggu ke-37 kehamilan.

Baca Juga: Ini Penjelasan mengenai Mimisan pada Ibu Hamil

  • Sindrom varicella kongenital

Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah sindrom varicella kongenital, yang bisa muncul jika Anda terinfeksi cacar air selama 20 minggu pertama kehamilan.

Sindrom varicella kongenital merupakan jenis cacat lahir yang jarang terjadi namun terbilang sebagai kondisi yang cukup serius.

Risiko yang dibawa dari sindrom ini adalah berbagai cacat lahir, seperti:

    • Luka di kulit
    • Berat badan rendah
    • Komplikasi gastrointestinal
    • Kelainan pada mata, otak, lengan, dan kaki
  • Varicella neonatal

Di sisi lain, infeksi yang terjadi beberapa hari sebelum persalinan, yakni 5 hari sampai 2 hari setelahnya, dapat meningkatkan risiko infeksi varicella neonatal.

Setidaknya ada sekitar 50 persen ibu hamil terinfeksi varicella neonatal saat terpapar cacar air.

Selain itu, infeksi ini juga bisa berkembang menjadi kondisi yang parah apabila terjadi pada bayi prematur, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Meskipun bisa mengancam bayi, perawatan yang tepat bisa membantu bayi Anda untuk bertahan.

  • Herpes zoster atau cacar ular

Ibu yang terinfeksi varicella di antara minggu ke-20 hingga 36, dapat meningkatkan risiko terjadinya cacar ular ketika janin Anda sudah lahir atau berusia anak-anak.

Cacar ular merupakan virus yang disebabkan oleh cacar air, dan menimbulkan ruam atau lepuh di salah satu area kulit.

Penyakit ini terjadi ketika tanda-tanda cacar air sudah menghilang, namun virusnya ada di dalam tubuh dan bisa aktif kembali.

Selain 20 minggu pertama kehamilan dan beberapa hari sebelum dan sesudah melahirkan, Anda tetap bisa menularkan infeksi cacar air pada bayi pada momen lainnya.

Jika Anda terkena cacar air dua minggu sebelum melahirkan hingga dua minggu setelah melahirkan, infeksi yang terjadi pada bayi bisa lebih ringan, namun tetap perlu diwaspadai.

Salah satunya adalah membuat bayi lahir dengan cacar air.

Penanganan

Berikut adalah penanganan cacar air yang bisa dilakukan:

  • Pada ibu

Setelah 24 jam setelah ruam cacar muncul, ibu hamil perlu mendapatkan obat antiviral bernama asiklovir. Obat ini berguna untuk mengendalikan gejala, serta mencegah dan menurunkan keparahan komplikasi.

Sebagai catatan, asiklovir umumnya diberikan jika Anda sudah hamil lebih dari 20 minggu.

Anda perlu menjalani rawat inap jika mengalami tanda-tanda komplikasi, atau jika memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

  • Pada bayi

Bayi yang ada di dalam kandungan tidak bisa mendapatkan pengobatan khusus kecuali melalui ibunya.

Ketika bayi sudah lahir dan terinfeksi, maka bayi perlu mendapatkan imunoglobulin untuk mencegah komplikasi, dengan kondisi:

    • Bayi telah lahir dalam kurun waktu tujuh hari setelah muncul ruam
    • Ibu mengalami ruam dalam kurun waktu tujuh hari setelah melahirkan
    • Bayi terpapar cacar air atau cacar ular dalam kurun waktu tujuh hari setelah dilahirkan, dan belum kebal terhadap virus tersebut
    • Selain imunoglobulin, bayi juga perlu mendapatkan obat antiviral.

Pencegahan

Anda bisa mencegah infeksi cacar air dengan mendapatkan vaksinasi.

Anda juga perlu berhati-hati dan membatasi kontak dengan penderita cacar air.

Namun, jika Anda sudah terpapar dan belum kebal, Anda bisa mencari bantuan medis dan mendapat suntikan antibodi.

Suntikan yang dilakukan selama 10 hari setelah terpapar bisa menurunkan risiko infeksi virus, serta menurunkan keparahan dan membantu Anda cepat pulih setelahnya.

Baca Juga: Nyeri Ligamen Perut Bawah Pada Ibu Hamil

Sumber

Pregnancy, Birth and Baby. (2021). Chickenpox and pregnancy. www.pregnancybirthbaby.org.au

Medical News Today. (2018). Pneumonia and pregnancy: Overview, complications, and treatment. www.medicalnewstoday.com

March of Dimes. (2021). Chickenpox during pregnancy. www.marchofdimes.org

Very Well Family. (2021). Exposure to Chickenpox During Pregnancy and Miscarriage. www.verywellfamily.com

Cleveland Clinic. (2022). Shingles. my.clevelandclinic.org

NHS. (2022). How is chickenpox treated during pregnancy? – NHS. www.nhs.uk

Mayo Clinic. (2020). Chickenpox and pregnancy: What are the concerns? – Mayo Clinic. www.mayoclinic.org

Antoni Shkraba. Close-up Shot of A Woman’s Baby Bump. www.pexels.com