Antiaritmia: Fungsi, Cara Pakai, dan Efek Samping

Antiaritmia: Fungsi, Cara Pakai, dan Efek Samping

Penulis: Justina | Editor: Ratna

Antiaritmia merupakan sekelompok obat yang dapat digunakan untuk mengobati kondisi aritmia. Aritmia sendiri merupakan suatu gangguan kesehatan di mana irama jantung menjadi terganggu yang ditandai dengan detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau justru tidak teratur. Untuk itu, pemberian resep obat antiaritmia harus menggunakan resep dokter.

Irama jantung yang tidak normal karena kondisi aritmia ini dapat terjadi karena aktivitas listrik jantung yang tidak teratur. Pada umumnya, selain detak jantung menjadi tidak teratur, aritmia juga ditandai dengan jantung yang berdebar, kepala menjadi pusing, nyeri dada, sesak napas, sampai pingsan atau kehilangan kesadaran.

Pada umumnya, obat antiaritmia bekerja dengan cara mengatur ulang jantung ke ritme normal atau mencegah episode aritmia. Obat ini juga bekerja pada berbagai saluran listrik jantung agar dapat menghentikan impuls listrik ekstra yang tidak teratur di jantung dan mencegah impuls listrik cepat yang tidak normal dari perjalanan di sepanjang jaringan jantung.

Ada beberapa kelas dari obat antiaritmia. Setiap kelas obat bekerja dengan cara yang berbeda tergantung dari jenis aritmia yang dialami dan penyebabnya.

Namun, sebagian besar obat antiaritmia diminum dalam jangka waktu yang lama untuk pengobatan yang tahan lama. Beberapa obat ada yang diberikan secara intravena atau disuntikkan ke dalam aliran darah untuk pasien yang tidak stabil atau tidak dapat minum obat secara oral.

Kelas Obat Antiaritmia

Kelas I, Penghambat Saluran Natrium

Obat ini bekerja dengan cara mencegah natrium melewati membran sel sehingga memperlambat impuls listrik di otot jantung.

Kelas II, Beta Blocker

Obat ini dapat memperlambat detak jantung sehingga bisa memblokir hormon seperti adrenalin.

Kelas III, Penghambat Saluran Kalium

Obat ini berfungsi mencegah kalium melewati membran sel sehingga dapat memperlambat impuls listrik di semua sel jantung.

Kelas IV, Penghambat Saluran Kalsium Nondihydropyridine

Obat ini bekerja dengan cara memblokir saluran kalsium di otot jantung sehingga bisa menurunkan denyut jantung dan kontraksi.

Selain itu, obat antiaritmia ada yang tidak termasuk dalam sistem klasifikasi VW (Vaughan-Williams), yaitu Adenosin yang berfungsi untuk memblokir atau memperlambat impuls listrik di nodus atrioventrikular antara bilik atas dan bawah jantung, serta digoxin yang dapat memperlambat detak jantung dan meningkatkan kontraktilitas jantung.

Cara Penggunaan Obat Antiaritmia

Obat antiaritmia terdiri dari 4 kelas. Dari 4 kelas tersebut, ada banyak jenis obat antiaritmia yang bisa digunakan. Tentunya, dosis dan penggunaannya harus mengikuti petunjuk dokter.

Berikut beberapa obat dari masing-masing kelas antiaritmia sekaligus dosis penggunaannya.

Obat Antiaritmia Kelas I

Salah satu obat antiaritmia kelas I adalah kuinidin. Dosisnya yaitu:

  • Untuk mengatasi ventrikel prematur dan kontraksi atrium pada orang dewasa, maka diberikan 200-300 mg obat sebanyak 3 sampai 4 kali sehari.
  • Untuk mengobati fibrilasi atrium pada orang dewasa, diperlukan 300 sampai 400 mg obat sebanyak 4 kali sehari.

Untuk mengobati takikardia supraventrikular pada orang dewasa, diberikan obat 400 sampai 600 mg setiap 2 sampai 3 jam sampai irama jantung menjadi normal.

Obat Antiaritmia Kelas II

Salah satu obat antiaritmia golongan II yaitu acebutolol di mana dosis awal untuk mengatasi aritmia yaitu 200 mg dan diberikan 2 kali sehari. Dosis ini dapat ditingkatkan maksimal 1.200 mg per hari sesuai dengan respon pasien.

Obat Antiaritmia Kelas III

Salah satu obat antiaritmia golongan III yaitu amiodaron, di mana dosis awal untuk mengatasi aritmia pada orang dewasa yaitu 200 mg sebanyak 3 kali sehari selama 1 minggu. Dosis tersebut selanjutnya dapat dikurangi menjadi 200 mg sebanyak 2 kali sehari.

Obat Antiaritmia Kelas IV

Salah satu obat antiaritmia kelas IV yaitu verapamil, di mana dosisnya yaitu:

  • Untuk pasien dewasa diberikan obat dengan dosis 120 sampai 480 mg diminum sebanyak 3 sampai 4 kali sehari.
  • Untuk anak-anak yang berusia 2 tahun diberikan obat 20 mg sebanyak 2 sampai 3 kali sehari.
  • Untuk anak-anak yang berusia 2 tahun ke atas, dosis obatnya 40 sampai 120 mg diminum sebanyak 2 sampai 3 kali sehari.

Efek Samping Antiaritmia

Obat-obat antiaritmia dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti:

  • Sembelit
  • Kepala menjadi pusing
  • Terasa haus secara berlebihan
  • Perubahan pada kulit, menjadi memerah atau kering
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Telinga menjadi berdenging
  • Sensitif terhadap matahari
  • Pembengkakan karena penumpukan cairan
  • Sulit buang air kecil
  • Asma menjadi memburuk

Baca Juga: Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Jantung

Sumber

Cleveland Clinic. (2022). What are Antiarrhythmics?. clevelandclinic.org

Drugs. (2021). Acebutolol. drugs.com

Drugs. (2022). Amiodarone. drugs.com

Drugs. (2022). Quinidine. drugs.com

Drugs. (2021). Verapamil. drugs.com

Heart Foundation. Antiarrhythmics. www.heartfoundation.org.nz

PIONAS. Antiaritmia. pionas.pom.go.id