5 Kondisi Ibu Hamil Dilarang Berhubungan Seksual

5 Kondisi Ibu Hamil Dilarang Berhubungan Seksual

Penulis: Dita | Editor: Umi

Di masa kehamilan, Anda mengalami fluktuasi hormon. Hal ini bisa menyebabkan hasrat seksual meningkat atau bahkan hilang. Namun, penting bagi Anda untuk mengetahui bagaimana hubungan seksual harus dilakukan di masa kehamilan.

Pada dasarnya, berhubungan seksual selama hamil sangat aman untuk dilakukan, kecuali dokter atau bidan melarang Anda untuk melakukannya. Banyak orang menyangka bahwa berhubungan seksual saat hamil bisa menyakiti bayi yang ada dalam kandungan. Faktanya, penetrasi tidak akan mencapai tempat di mana bayi berada.

Baca Juga: 6 Posisi Berhubungan Intim Saat Hamil, Patut DiCoba dan Dijamin Aman

Hubungan Seksual Selama Masa Kehamilan

Perubahan hasrat seksual selama kehamilan adalah hal yang biasa. Hal yang perlu Anda lakukan adalah membicarakannya secara terbuka dengan pasangan. Anda mungkin akan merasakan peningkatan hasrat seksual, kemudian di waktu lainnya justru tidak ingin melakukannya sama sekali.

Selama kehamilan Anda normal dan tanpa komplikasi, berhubungan seksual atau mengalami orgasme tidak akan menyebabkan kelahiran prematur atau keguguran.

Pada trimester akhir, orgasme atau seks itu sendiri memang bisa menimbulkan kontraksi ringan. Jika ini terjadi, Anda akan merasakan perut menjadi kencang. Kondisi ini dinamakan dengan kontraksi Braxton Hicks (kontraksi palsu).

Meski menimbulkan rasa tidak nyaman, pada dasarnya kontraksi Braxton Hicks adalah hal yang normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda hanya perlu untuk relaksasi sejenak atau berbaring sampai efek kontraksinya hilang.

Baca Juga: Kapan Bisa Berhubungan Seks Setelah Operasi Caesar?

Kondisi Apa yang Menyebabkan Seorang Ibu Hamil Dilarang Berhubungan Seksual?

Tanyakan pada dokter kandungan atau bidan terlebih dahulu apakah Anda boleh berhubungan seksual atau tidak di masa kehamilan. Ada setidaknya 5 kondisi yang membuat seorang ibu hamil sebaiknya menunda berhubungan seksual antara lain:

1. Perdarahan

Alasan utama Anda akan diminta menghindari hubungan seksual adalah ketika Anda mengalami perdarahan di masa awal kehamilan. Seks bisa meningkatkan perdarahan lebih lanjut jika posisi plasenta rendah atau terdapat penggumpalan darah (hematoma).

Jika Anda mengalami perdarahan, dokter biasanya akan menyarankan untuk ‘libur’ dari seks sampai dengan 14 minggu atau sampai kondisi Anda dan janin dipastikan aman.

2. Kondisi Kesehatan Tertentu

Dokter juga mungkin akan meminta Anda untuk tidak berhubungan seksual saat hamil jika Anda memiliki riwayat sakit pada serviks, pernah mengalami perdarahan berat, atau mengalami infeksi pada vagina.

3. Sakit Perut

Wanita hamil yang kerap mengalami nyeri perut atau kram juga disarankan untuk menghindari hubungan seksual selama masa kehamilan.

4. Hubungan Seksual yang Melibatkan Posisi Berbahaya

Hubungan seksual yang membuat ibu hamil merasa tidak nyaman atau membuat perut berada dalam tekanan yang intens juga sebaiknya dihindari. Meski oral seks sebenarnya boleh saja dilakukan selama kehamilan, pasangan harus berhati-hati untuk tidak meniupkan udara ke dalam vagina.

Pasalnya, masuknya udara ke dalam vagina bisa menyebabkan emboli yang akan berakibat fatal bagi ibu dan janin yang dikandung. Oleh karena itu, ada baiknya menghindari oral seks selama kehamilan.

5. Berhubungan Seksual dengan Pasangan yang Memiliki Riwayat Kesehatan Buruk

Seorang wanita yang sedang hamil sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang riwayat kesehatannya buruk.

Misalnya saja, memiliki potensi untuk menularkan penyakit, seperti herpes atau HIV. Penyakit ini sangat mudah menular baik kepada ibu maupun bayi yang dikandungnya. Hindari seksual jika Anda berada dalam situasi seperti ini.

Beberapa kondisi lainnya yang juga membuat ibu hamil sebaiknya menghindari berhubungan seksual adalah:

  • Memiliki risiko atau riwayat keguguran sebelumnya
  • Berisiko mengalami persalinan prematur (kontraksi sebelum 37 minggu kehamilan)
  • Mengalami perdarahan vagina, keputihan, atau kram tanpa penyebab yang jelas
  • Kantung ketuban Anda mengeluarkan cairan atau ketuban pecah
  • Leher rahim atau serviks terbuka terlalu cepat selama kehamilan
  • Anda hamil anak kembar, kembar tiga, atau kelipatannya.

Apa pun kondisi yang Anda miliki, berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu adalah langkah terbaik untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan di masa kehamilan.

Baca Juga: Penyebab Darah Keluar Saat Memasukkan Jari ke Vagina (Fingering)

Sumber

Lybrate (2022). Conditions When to Stop Sex During Pregnancy. www.lybrate.com

Mayo Clinic (2022). Sex During Pregnancy: What’s OK, What’s Not. www.mayoclinic.org

NHS (2021). Sex in Pregnancy. www.nhs.co.uk

WebMD (2021). Sex During and After Pregnancy. www.webmd.com